"Mama... Mama..." Tangis Arya Pecah, Balita Korban Kebakaran Terus Cari Ibunya yang Telah Tiada

 

Balita Korban Kebakaran di Cibodas Terus Panggil Sang Ibu, Kisah Haru di RSUD Palabuhanratu. Foto: Asep Gunawan

SMartnewsroom.com, Palabuhanratu - Suasana duka menyelimuti ruang perawatan RSUD Palabuhanratu, Sabtu (4/7/2026). Muhammad Arya, balita berusia 3,5 tahun yang selamat dari kebakaran maut di Desa Cibodas, terus memanggil ibunya, Eni (33), yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

 

Di atas ranjang perawatan, Arya yang mengalami luka bakar tampak menggenggam erat tangan pamannya, Kemal (41). Di sela rasa sakit yang dideritanya, balita itu berulang kali memanggil, "Mama... Mama...", seolah mencari sosok yang tak lagi bisa menemaninya.

 

Kemal yang setia mendampingi keponakannya mengaku tak kuasa menahan haru. Menurutnya, meski Arya sudah tidak lagi menyusu, kedekatan dan ikatan batin dengan sang ibu masih sangat kuat.

 

Kemal menduga Eni sempat menyelamatkan putranya terlebih dahulu sebelum kobaran api membesar. Arya diduga dibawa ke ruang tengah agar berada di tempat yang lebih aman, sementara Eni kembali berusaha memadamkan api yang mulai membesar.

 

"Anak ini sudah lepas susu. Saat kejadian, ibunya sudah berhasil mengamankan anak ini di ruang tengah. Setelah itu kemungkinan besar almarhumah berniat memadamkan api yang asalnya dari kompor dan mulai menjilat ke bensin eceran," ujar Kemal di RSUD Palabuhanratu.

 

Baca Juga: Rumah Panggung di Palabuhanratu Ludes Terbakar, Satu Orang Tewas Usai Menyelamatkan Seorang Anak

 

Akibat kebakaran tersebut, Arya mengalami luka bakar sekitar 40 persen di tubuhnya. Kondisinya membuat ia kerap gelisah, terutama saat efek obat mulai berkurang.

 

Sesekali Kemal menggendong Arya keluar dari ruang perawatan untuk menenangkannya. Dengan menggunakan kain jarik, ia menggendong sang keponakan sambil menjaga kantong dan selang infus tetap berada di posisi yang aman. Di tangan lainnya, Kemal menggenggam kipas angin portabel yang diarahkan perlahan ke wajah Arya yang masih dibalut perban.

 

"Mungkin panas ya. Kalau efek obat habis dia sedikit resah, makanya saya bawa keluar biar ada angin," katanya.

 

Di usia yang masih sangat belia, Arya kini harus menjalani proses pemulihan fisik sekaligus menghadapi kehilangan sosok ibunya. Kemal mengatakan, musibah tersebut tidak hanya merenggut nyawa Eni, tetapi juga menghanguskan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal keluarga mereka. Sementara itu, ayah Arya diketahui sedang merantau di luar pulau.

 

"Selain kehilangan ibundanya, anak ini juga sekarang kehilangan rumahnya untuk bernaung. Semuanya sudah habis terbakar," tutur Kemal dengan suara lirih.

 

Reporter: Asep Gunawan

Editor: Muhammad Iqbal Abdillah

Redaktur: RHF


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama