Kecamatan Cisolok Dorong Desa Berdaya Saing Lewat Wisata, Pertanian, dan UMKM

 

Camat Cisolok Tekankan Pengelolaan Potensi Lokal untuk Kesejahteraan Desa. Foto: Iqbal Abdillah

SMartnewsroom.com, SUKABUMI - Pengembangan desa berbasis potensi lokal menjadi fokus utama Pemerintah Kecamatan Cisolok dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan pola hidup masyarakat, Kecamatan Cisolok terus mendorong desa-desa agar mampu tumbuh mandiri dengan mengandalkan kekuatan sektor pariwisata, pertanian, perikanan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 

Hal tersebut disampaikan Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq memaparkan berbagai strategi, tantangan, serta solusi konkret agar desa-desa di wilayah Cisolok dapat berkembang secara berkelanjutan.

 

“Desa tidak boleh hanya menunggu bantuan. Desa harus mampu mengelola kekayaan alam dan sosialnya menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Okih Pazri Assidiq, Minggu (08//02/2026).

 

Baca Juga: Siapkan Keluarga Sehat Sejak Awal, BIMWIN Cisolok Libatkan Lintas Instansi

 

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah pemetaan potensi desa. Setiap desa diarahkan untuk mengenali dan menggali keunggulan masing-masing, baik dari sisi alam, budaya, maupun sumber daya manusia. Kecamatan Cisolok sendiri memiliki kekayaan potensi yang sangat beragam, mulai dari kawasan wisata pantai, Geopark Ciletuh–Palabuhanratu, sumber air panas, hingga tradisi budaya lokal yang masih terjaga.

 

Di sektor pertanian dan perikanan, Cisolok dikenal sebagai penghasil padi, kopi, hortikultura, serta hasil laut yang melimpah. Potensi tersebut, kata Okih, tidak boleh hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi harus diolah menjadi produk bernilai tambah melalui penguatan UMKM desa.

 

“Kami dorong desa bukan sekadar punya potensi, tapi benar-benar mengelolanya. Hasil pertanian dan laut harus diolah menjadi produk UMKM agar nilai ekonominya meningkat,” jelasnya.

 

Baca Juga: Pembukaan SPPG di Wanajaya, Pemerintah Kecamatan Cisolok Perkuat Sinergi Program MBG

 

Selain pemetaan potensi, Kecamatan Cisolok juga fokus pada peningkatan kapasitas aparatur desa dan masyarakat. Berbagai pelatihan dan pendampingan rutin difasilitasi, mulai dari pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), manajemen UMKM, hingga penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

 

Pelatihan yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktik langsung, seperti pengemasan produk, pemasaran digital, hingga pengelolaan keuangan sederhana.

 

“Pelatihan satu kali tidak cukup. Harus ada pendampingan berkelanjutan agar benar-benar berdampak,” kata Okih.

 

Baca Juga: Camat Cisolok Dorong Peran Motekar Bangun Ketahanan Keluarga dan Masa Depan Generasi Muda

 

Perubahan pola pikir masyarakat juga menjadi perhatian penting. Dari yang semula bergantung pada sektor tradisional, kini didorong untuk lebih berorientasi pada kewirausahaan dan inovasi. Agar pembangunan berjalan searah, Kecamatan Cisolok memastikan seluruh program desa selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) serta sinkron dengan kebijakan pemerintah kabupaten, khususnya di bidang pariwisata, ketahanan pangan, dan pengembangan UMKM.

 

Penggunaan dana desa pun diawasi agar tepat sasaran dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. “Kami tidak ingin program desa hanya bersifat seremonial. Program harus berdampak nyata bagi ekonomi warga,” tegasnya.

 

Di era digital, promosi menjadi kunci pengembangan desa. Kecamatan Cisolok mendorong desa aktif memanfaatkan media sosial, website desa, serta berbagai event lokal untuk memperkenalkan potensi unggulan. Kolaborasi antar desa juga digalakkan, terutama bagi desa-desa dengan potensi serupa, agar dampak pengembangannya lebih luas.

 

Dalam hal kerja sama dengan pihak swasta atau investor, kecamatan berperan sebagai fasilitator dan mediator. Okih menegaskan, setiap kerja sama harus memiliki dasar hukum yang jelas, transparan, serta berpihak pada kepentingan masyarakat. Kerja sama juga diarahkan melalui BUMDes agar desa tetap menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi.

 

“Kami ingin desa menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar penonton,” ujarnya.

 

Meski demikian, pengembangan desa di Cisolok tidak lepas dari tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur pendukung yang belum merata, serta pola pikir masyarakat yang masih bertumpu pada sektor tradisional. Untuk itu, pendampingan jangka panjang, pemanfaatan teknologi digital, serta monitoring dan evaluasi program terus dilakukan.

 

“Kami ingin setiap program benar-benar hidup dan berkembang, bukan hanya bagus di atas kertas,” kata Okih.

 

Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kecamatan Cisolok untuk terus mendampingi desa-desa di wilayahnya. Menurutnya, kunci keberhasilan pengembangan desa terletak pada sinergi antara desa, kecamatan, pemerintah daerah, dan pihak swasta.

 

“Desa yang kuat akan melahirkan masyarakat yang sejahtera. Itu tujuan utama kami,” pungkasnya.

 

Reporter: Muhammad Iqbal Abdillah

Editor: Muhammad Fikri Fauzi

Redaktur: RHF


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama