SmartNewsroom.com • Berita Cerdas, Perspektif Luas
Berita Cerdas, Perspektif Luas
BREAKING NEWSSmartNewsroom.com menyajikan informasi aktual, cepat dan terpercaya untuk Indonesia.
HEADLINE

Memuat berita utama SmartNewsroom...

Berita terbaru akan ditampilkan otomatis dari posting Blogger.

SmartNewsroom.com

BERITA TERKINI

BERITA

Memuat berita terbaru...

SmartNewsroom.com
BERITA

Memuat berita terbaru...

SmartNewsroom.com
BERITA

Memuat berita terbaru...

SmartNewsroom.com

BERITA TERBARU

Lihat Semua →

Senin, 05 Oktober 2026

Bikin Geger! Sanca 4 Meter Dievakuasi Tim Rescue Damkarmat Dari Bawah Bangku Warung Dekat RSUD Palabuhanratu

 

Detik-Detik Tim Rescue Damkarmat Turun Tangan Evakuasi Ular Sanca. (Sumber Foto: Muhammad Fikri Fauzi).

SMartnewsroom.com, SUKABUMI - Warga dan pedagang di sekitar RSUD Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, dibuat geger oleh kemunculan seekor ular sanca batik berukuran sekitar 4 meter, Minggu (5/10/2026).

Reptil berukuran besar itu ditemukan bersembunyi di bawah bangku sebuah warung yang berada di depan RSUD Palabuhanratu, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu.

Awalnya, keberadaan ular tersebut sempat tidak disadari. Namun setelah terlihat di bawah bangku, warga yang berada di sekitar lokasi langsung dibuat panik dan memilih menjauh.

Mengingat lokasi penemuan berada di tengah aktivitas masyarakat, warga kemudian melaporkan kejadian tersebut melalui layanan Damkar Cermat.

Laporan itu dengan cepat direspons petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Sukabumi. Sejumlah personel langsung diterjunkan untuk melakukan proses evakuasi.

Petugas harus berhati-hati karena sebagian tubuh ular masih berada di balik timbunan material. Setelah dilakukan penanganan, ular akhirnya berhasil dikeluarkan dan diamankan.

Kasi Pengendalian Operasi dan Komunikasi Penyelamatan DPKP Kabupaten Sukabumi, Tatang Sutarman, S.Kep., atau yang akrab disapa Kang Tangsoet, mengatakan proses evakuasi berlangsung sekitar lima menit.

“Setelah sekitar lima menit personel berjibaku, akhirnya ular sanca batik tersebut berhasil diamankan dengan kondisi selamat,” ujar Kang Tangsoet.

Menurutnya, ular tersebut tidak dimusnahkan. Petugas akan memastikan satwa liar itu mendapatkan penanganan sesuai prosedur dan dikembalikan ke habitat yang sesuai.

“Kami tidak memusnahkan ular tersebut. Ular akan kami kembalikan ke habitatnya agar tidak mengganggu ekosistem maupun aktivitas warga,” tambahnya.

Kang Tangsoet mengimbau masyarakat agar tidak mengambil tindakan sendiri ketika menemukan satwa liar, khususnya ular berukuran besar atau yang berpotensi membahayakan.

“Masyarakat diminta segera menghubungi petugas agar proses evakuasi dapat dilakukan secara aman, sekaligus menjaga keselamatan warga dan satwa tersebut,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Fikri Fauzi

Redaktur: Muhammad Iqbal Abdillah


Minggu, 04 Oktober 2026

Camat Cisolok Hadiri Seren Taun ke-658, Tradisi Leluhur Kasepuhan Gelar Alam Tetap Terjaga

 

658 Tahun Tak Putus! Seren Taun Kasepuhan Gelar Alam Kembali Menggema di Cisolok. (Sumber Foto: Muhammad Fikri Fauzi).

SMartnewsroom.com, SUKABUMI – Denting tradisi leluhur kembali menggema di Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Seren Taun ke-658 digelar pada Minggu (4/10/2026), menjadi penanda panjangnya perjalanan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya secara turun-temurun.

Mengusung tema “Nyoreang Alam Katukang, Nyawang Alam Nu Bakal Datang”, puncak Seren Taun dihadiri Bupati Sukabumi H. Asep Japar, Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas, unsur Forkopimda, Forkopimcam, tokoh adat, serta masyarakat Kasepuhan.

Camat Cisolok Okih Pazri Assidiq turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah kecamatan terhadap keberlangsungan tradisi adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kasepuhan Gelar Alam selama ratusan tahun.

Berbagai prosesi adat dan kesenian tradisional turut ditampilkan. Mulai dari angkat ampih pare ka leuit, sarasehan bersama Baris Olot Kasepuhan, hingga pertunjukan Dongdang, Dog-dog Lojor, Debus, Lisung, Rengkong, Gondang Buhun dan Tari Tani.

Bupati Sukabumi H. Asep Japar menyebut pelaksanaan Seren Taun hingga generasi ke-658 menjadi gambaran kuat tentang konsistensi masyarakat adat dalam mempertahankan warisan leluhur.

“Pelaksanaan Seren Taun ke-658 ini merupakan bukti keteguhan, konsistensi, dan kecintaan masyarakat adat dalam melestarikan warisan budaya,” kata Asep Japar.

Menurutnya, adat dan budaya tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga ketahanan pangan.

Pemkab Sukabumi juga terus mendorong pengakuan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) bagi Kasepuhan Gelar Alam. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat perlindungan sekaligus pengembangan potensi budaya di kawasan tersebut.

“Pemkab Sukabumi berkomitmen mendukung pelestarian adat serta pengembangan potensi kawasan ini sebagai destinasi wisata budaya unggulan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Adat Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Seren Taun ke-658.

“Alhamdulillah, penyelenggaraan Seren Taun berjalan lancar,” ucap Abah Ugi.

Sementara itu, Camat Cisolok Okih Pazri Assidiq mengatakan, keberlangsungan Seren Taun menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan seremoni, tetapi juga memastikan nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.

“Seren Taun bukan hanya tradisi tahunan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kearifan masyarakat dalam menjaga hubungan dengan alam,” ujar Okih.

Ia berharap keberadaan Kasepuhan Gelar Alam dapat terus menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya di Kecamatan Cisolok sekaligus membuka ruang bagi pengembangan wisata berbasis budaya yang tetap menghormati adat dan nilai masyarakat setempat.

Seren Taun ke-658 pun kembali menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya perubahan zaman, tradisi leluhur masih dapat berdiri kokoh selama masyarakat terus menjaga, merawat, dan mewariskannya.

Reporter: Muhammad Fikri Fauzi

Redaktur: Muhammad Iqbal Abdillah


Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Label

Tag Utama

Iklan

{getFeatured} $results={5} $label={recent}

JSON Variables