![]() |
| Temui Penyintas Kebakaran Ciptamulya, KDM Minta Pemulihan Disertai Penataan Kawasan Adat. Foto: Fikri Fauzi |
SMartnewsroom.com, – Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menegaskan bahwa proses pemulihan pascakebakaran di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan kembali rumah-rumah yang hangus terbakar.
Menurut Kang Dedi Mulyadi, proses rehabilitasi harus dibarengi dengan penataan kawasan permukiman agar lebih tertib, nyaman, dan aman, tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal yang selama ini menjadi identitas masyarakat adat Kasepuhan Ciptamulya.
Hal tersebut disampaikan Kang Dedi Mulyadi saat menerima 52 perwakilan penyintas kebakaran di Gedung Sri Baduga, Kabupaten Purwakarta, Minggu (02/8/2026).
Rombongan penyintas dipimpin oleh tokoh adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik. Turut mendampingi Kepala Desa Sirnaresmi, Iwan Riswandi atau yang akrab disapa Jaro Iwan, serta Camat Cisolok Okih Pazri Assidiq.
Dalam dialog bersama Jaro Iwan, Kang Dedi Mulyadi mencontohkan keberhasilan penataan permukiman korban bencana longsor di Kabupaten Sukabumi yang sebelumnya dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, konsep serupa dapat diterapkan untuk membangun kembali Kampung Adat Ciptamulya agar menjadi kawasan yang lebih tertata tanpa meninggalkan ciri khas budaya masyarakat adat.
"Ke iyeu na (rumah) ditataan. Kan pernah aya anu dibantu di Sukabumi anu longsor, terus dipindahkeun jadi alus kampungna. Disebutna Kampung KDM. Tah ieu ge (Ciptamulya) ditata sapertos kitu, Jaro," ujar Kang Dedi Mulyadi.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan rumah-rumah adat pascakebakaran diharapkan menjadi bagian dari penataan kawasan secara menyeluruh, bukan sekadar mengganti bangunan yang musnah akibat kebakaran.
Selain menyoroti aspek fisik permukiman, Kang Dedi Mulyadi juga memberikan perhatian besar terhadap pelestarian budaya masyarakat adat. Ia mengingatkan agar proses pembangunan tidak mengikis identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, generasi muda Kasepuhan Ciptamulya harus tetap mempelajari dan melestarikan berbagai tradisi leluhur, seperti ngaseuk atau tradisi menanam padi, hingga nutu, yakni menumbuk padi secara tradisional.
"Rek naon tarara nutu, nya diajar narutu ku sorangan. Mun teu bisa narutu, balik deui ka lembur, sangsara. Ari jelema mah kudu sagala siap sangsara, komo senang," tutur Kang Dedi Mulyadi.
Melalui pesan tersebut, KDM berharap proses pemulihan Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya tidak hanya menghasilkan lingkungan permukiman yang lebih baik, tetapi juga mampu menjaga keberlangsungan adat istiadat, budaya, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat kasepuhan agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Penulis: Muhammad Fikri Fauzi
Editor: Mia
Redaktur: RHF
